Minggu, 03 Juni 2012

keberanianku menulis surat untukmu ◦^⌣^◦


Aneh rasanya saat aku mati-matian menyuruh otakku untuk merangkai kata yang akan ku tulis untukmu di surat ini justru membelot. Ia kini malah sibuk memutar kembali memori-memori itu.
Memori yang sesungguhnya ingin aku lupakan saja.
Dan kau tahu apa yang lebih aneh?
Sejuta ‘kenapa’ dan ‘kenapa’ sibuk berkeliaran diantara memori-memori itu.
Dan yang paling aneh adalah, aku masih bisa merasakan perasaan itu.
Meskipun rasa sesak yang mengiringinya sudah jauh berkurang dibanding 3 tahun lalu.
Lebih dari 3 tahun lalu sebenarnya.
Waktu begitu cepat berlalu ya?
Dan baru sekarang aku memberanikan diri untuk menulis surat ini untukmu.
Mungkin surat ini memang terlambat, lebih dari 3 tahun terlambat, but somehow I got the feeling that.. it’s just the way it is.
Mungkin memang sudah jalannya aku baru berani menulis surat ini, dan mengutarakan apa yang benar-benar aku rasakan saat itu.
Aku sakit..
Aku sakit hingga dadaku terasa sesak.
Aku pikir terserang penyakit asma itu menyakitkan, namun sakit yang kurasakan mungkin melebihi asma.
Aku menangis.
Aku menangis hingga berhari-hari. (Jangan keburu tak percaya, aku tak menangisimu secara terus menerus, hanya saja dalam beberapa hari mataku berubah seperti kran yang dilepas sumbatnya setiap kali wajahmu terlitas di benakku)
Aku menangis hingga mataku perih dan akhirnya aku memutuskan untuk memejamkannya hingga pagi menjelang.
Iya, jika kau bertanya apakah mataku membengkak pagi hari itu, kau tau apa jawabanku saat ayah bertanya ada apa dengan mataku??
Aku jawab, “Semalam aku menonton film India..” dan ayah percaya. Aku rasa bakat aktingku lumayan juga..
Aku hilang.
Aku seperti kehilangan pegangan.
Karena aku kehilangan mu.
Dan tak hanya kau, karibku pun menghilang.
Aku tau iapun sebenarnya tak tega padaku. Tapi toh pada akhirnya dia pergi juga.
Hariku terasa hampa.
Tak ada lagi “Sudah bangun?” tiap pagi di layar kecil telepon genggamku.
Tak ada lagi “Sudah makan?” yang selalu muncul paling tidak 3 kali dalam sehari di layar yang sama.
Tak ada lagi suara tawa unikmu yang selalu membuatku ikut tertawa meskipun aku tak tau apa yang kau tertawakan.
Dingin.
Kita berdua terdiam.
Saat itu aku marah, dan saat itu kau kecewa.
Aku marah karena dengan mudahnya kau mencari penggantiku, sementara aku kecewa karena kau.. kau.. kau menganggapku tak lebih dari seorang karib. Seorang karib yang seharusnya bahagia saat kau menemukan cinta¸ bukannya marah dan membangun pagar pembatas hingga kau tak bisa lagi meraihku.
Aku menghapus namamu dari telepon genggamku.. meskipun beberapa pesan singkat masih aku simpan.
Meskipun pada akhirnya aku mengganti nomorku, masih ada beberapa pesan singkat yang kau kirim tersimpan rapih.
Aku sengaja tidak berteman denganmu di beberapa jejaring sosial, meskipun aku masih saja mencari tau kabarmu lewat teman lain.
Aku sering mengambil jalan memutar saat aku tau kau berada di jalur yang akan ku lewati, itu kenapa kau hampir tak pernah melihatku di sekolah dulu
…karena aku selalu melihat mu.
Tertawa disana dengan beberapa teman baru mu, lalu memutuskan untuk berbalik arah mencari jalan alternative. Saat itu aku sama sekali tak peduli meski kakiku terasa sakit karena berjalan terlalu jauh. Karena dengan sedikit pijatan, kaki-kaki pegalku bisa kembali nyaman.
Namun tidak dengan hatiku sesak rasanya bahkan sesak sekali ketika aku harus pergi jauh dari dirimu meninggalkan kisah kita yang dulu selalu menjadi kebanggan ku :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar