♥Dear Bagus,
Jika bukan karenamu, aku tidak akan pernah ada dan hari ini aku tidak mungkin berada di sini. Jika bukan karenamu, cinta tidak pernah ada dan semesta hanyalah ruang gelap tanpa udara. Tanpa suara.
Jika bukan karenamu, aku tidak pernah menjadi orang yang kuat. Yang tahu rasanya ditinggalkan dan meninggalkan. Yang tahu rasanya jatuh lalu bangkit lagi. Yang tahu rasanya sakit dan disembuhkan. Yang tahu bahwa malam bukanlah akhir dari segalanya. Yang percaya bahwa matahari masih akan terbit esok hari, meskipun langit nampak murung.
♥Dear Bagus,
Banyak yang menyangka warnamu merah jambu atau merah. Buatku, kamu tidak berwarna. Seperti air di telaga: bening, mengalir, mengisi, menyesuaikan, memberi hidup. Ketika wadah yang kamu isi berwarna hitam, kamu pun seolah-olah tampak hitam. Ketika permukaan yang kamu aliri berwarna putih, kamu pun seperti bunglon. Memutih. Ketika daratan yang kamu isi berwarna hijau, kamu pun tak ubahnya seperti daratan itu. Hanya saja lebih berkilau. You’re perfect gus ;)
Tidak penting sebenarnya apa warnamu. Karena sebagaimana udara, kamu tidak terlihat namun dapat dirasa. Tidak dapat dipegang, tapi menggenggam erat. Tidak perlu dicari, tapi terus tetap ada. Hanya saja kadang aku menemukanmu di tempat yang salah.
♥Dear Bagus,
Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu. Sampai mati pun nanti masih banyak yang aku ingin katakan kepadamu. Jika surat ini aku teruskan, mungkin jemariku akan putus. Jika semua kata-kata tentangmu aku sampaikan, mungkin telaga air mataku akan mengering . Jika perasaan ini terus aku ungkapkan, mungkin hatiku akan lepas sebelum ada orang yang dapat menangkapnya.
♥Dear Bagus,
Jangan berhenti bernafas. Jangan pernah mati, meski pun nanti ragaku mengering, meskipun sekarang harus aku sadari di dunia kamu tak lagi, kamu telah pergi jauh dari sisiku, tapi dihatiku kau tidak akan pernah mati gus :’(
Terima kasih untuk segalanya. Yang telah aku terima, yang sedang aku terima, dan yang nanti akan aku terima.
Jika bukan karenamu, aku tidak akan pernah ada dan hari ini aku tidak mungkin berada di sini. Jika bukan karenamu, cinta tidak pernah ada dan semesta hanyalah ruang gelap tanpa udara. Tanpa suara.
Jika bukan karenamu, aku tidak pernah menjadi orang yang kuat. Yang tahu rasanya ditinggalkan dan meninggalkan. Yang tahu rasanya jatuh lalu bangkit lagi. Yang tahu rasanya sakit dan disembuhkan. Yang tahu bahwa malam bukanlah akhir dari segalanya. Yang percaya bahwa matahari masih akan terbit esok hari, meskipun langit nampak murung.
♥Dear Bagus,
Banyak yang menyangka warnamu merah jambu atau merah. Buatku, kamu tidak berwarna. Seperti air di telaga: bening, mengalir, mengisi, menyesuaikan, memberi hidup. Ketika wadah yang kamu isi berwarna hitam, kamu pun seolah-olah tampak hitam. Ketika permukaan yang kamu aliri berwarna putih, kamu pun seperti bunglon. Memutih. Ketika daratan yang kamu isi berwarna hijau, kamu pun tak ubahnya seperti daratan itu. Hanya saja lebih berkilau. You’re perfect gus ;)
Tidak penting sebenarnya apa warnamu. Karena sebagaimana udara, kamu tidak terlihat namun dapat dirasa. Tidak dapat dipegang, tapi menggenggam erat. Tidak perlu dicari, tapi terus tetap ada. Hanya saja kadang aku menemukanmu di tempat yang salah.
♥Dear Bagus,
Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu. Sampai mati pun nanti masih banyak yang aku ingin katakan kepadamu. Jika surat ini aku teruskan, mungkin jemariku akan putus. Jika semua kata-kata tentangmu aku sampaikan, mungkin telaga air mataku akan mengering . Jika perasaan ini terus aku ungkapkan, mungkin hatiku akan lepas sebelum ada orang yang dapat menangkapnya.
♥Dear Bagus,
Jangan berhenti bernafas. Jangan pernah mati, meski pun nanti ragaku mengering, meskipun sekarang harus aku sadari di dunia kamu tak lagi, kamu telah pergi jauh dari sisiku, tapi dihatiku kau tidak akan pernah mati gus :’(
Terima kasih untuk segalanya. Yang telah aku terima, yang sedang aku terima, dan yang nanti akan aku terima.
Tertanda aku yang selalu mengagumimu♥ε˘`)



