Selasa, 29 Mei 2012

Buat kamu yang mengerti ini♥


♥Dear Bagus,

Jika bukan karenamu, aku tidak akan pernah ada dan hari ini aku tidak mungkin berada di sini. Jika bukan karenamu, cinta tidak pernah ada dan semesta hanyalah ruang gelap tanpa udara. Tanpa suara.

Jika bukan karenamu, aku tidak pernah menjadi orang yang kuat. Yang tahu rasanya ditinggalkan dan meninggalkan. Yang tahu rasanya jatuh lalu bangkit lagi. Yang tahu rasanya sakit dan disembuhkan. Yang tahu bahwa malam bukanlah akhir dari segalanya. Yang percaya bahwa matahari masih akan terbit esok hari, meskipun langit nampak murung.

♥Dear Bagus,

Banyak yang menyangka warnamu merah jambu atau merah. Buatku, kamu tidak berwarna. Seperti air di telaga: bening, mengalir, mengisi, menyesuaikan, memberi hidup. Ketika wadah yang kamu isi berwarna hitam, kamu pun seolah-olah tampak hitam. Ketika permukaan yang kamu aliri berwarna putih, kamu pun seperti bunglon. Memutih. Ketika daratan yang kamu isi berwarna hijau, kamu pun tak ubahnya seperti daratan itu. Hanya saja lebih berkilau. You’re perfect gus ;)

Tidak penting sebenarnya apa warnamu. Karena sebagaimana udara, kamu tidak terlihat namun dapat dirasa. Tidak dapat dipegang, tapi menggenggam erat. Tidak perlu dicari, tapi terus tetap ada. Hanya saja kadang aku menemukanmu di tempat yang salah.

♥Dear Bagus,

Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu. Sampai mati pun nanti masih banyak yang aku ingin katakan kepadamu. Jika surat ini aku teruskan, mungkin jemariku akan putus. Jika semua kata-kata tentangmu aku sampaikan, mungkin telaga air mataku akan mengering . Jika perasaan ini terus aku ungkapkan, mungkin hatiku akan lepas sebelum ada orang yang dapat menangkapnya.

♥Dear Bagus,

Jangan berhenti bernafas. Jangan pernah mati, meski pun nanti ragaku mengering, meskipun sekarang harus aku sadari di dunia kamu tak lagi, kamu telah pergi jauh dari sisiku, tapi dihatiku kau tidak akan pernah mati gus :’(
Terima kasih untuk segalanya. Yang telah aku terima, yang sedang aku terima, dan yang nanti akan aku terima.

Tertanda aku yang selalu mengagumimuε˘`)

Jumat, 25 Mei 2012

rindu yang mengguat

untukmu yg menjadi lelaki ketiga yg aku cintai setelah ayah dan alm.bagus :')

Setelah lama waktu berlalu dan kamu masih saja mengirimiku pesan selamat pagi, seperti yang sudah-sudah. membuatku makin merasa menjadi seorang putri yang selalu dimanja olehmu :') dan juga kamu sengaja membangunkanku untuk beribadah, kamu mengingatkanmu untuk sholat subuh, dzuhur, asar, magrib, sampai isya dan kamu pernah bilang, kita tidak seiman namun selalu mengamini doa yang sama. 

Sayang, terima kasih telah mengingatkan aku untuk beribadah sholat lima waktu di pesan singkatmu itu. Aku tak perlu mengingatkanmu untuk pergi ke Gereja setiap Minggu dan ibadah-ibadah agamamu yang lainnya bukan? Karena kamu jauh lebih dewasa dariku dan kamu sadar itu tanggung jawabmu sebagai umat-Nya. Tapi, jika kamu masih malas bangun pagi atau seperti yang kamu bilang –tidak sempat- aku tidak akan pernah merasa keberatan untuk mengingatkan. Doakan aku dengan caramu agar aku lebih dapat menerima jika kita memang tidak bisa bersama sayaaang . Tapi kenyataannya, sehebat apapun mempertahankan, kita hanya dua pejuang yang kalah di mata Tuhan kita kalah yaa mungkin itu yang terjadi sungguh menyedihkan sekali kisah cinta kita :'(. Tak ada guna aku bersujud, dan tak ada guna kau berlutut sayang karna sampai pada akhirnya kita harus berpisah, tapi mungkin suatu saat kita akan bertemu dirumah Tuhan kita yang bersebelahan sayang aku yakin itu :'). kamu lihat gambar itu, gambar itu yang mewakili perasaan aku kepadamu sayang aku selalu tabah dengan semua ini aku yakin semua ini ujian dari Tuhan kita sayang :')

Aku tau tidak akan kau biarkan aku durhaka pada keyakinanku, dan tak kau biarkan dirimu sendiri berpaling dari agama yang mendarah daging sejak kau lahir.

Sayang, bila cinta memang benar adalah anugerah Yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih, kenapa Ia biarkan kita tersiksa bahkan sebelum kita sempat menyentuh neraka?


Aku yang mencintaimu tanpa perbedaan !!

Sabtu, 19 Mei 2012

surat pertama untukmu yang disana :')

Teruntuk dirimu yang sangat kusayangi disurga sana :')

Hai, apa kabar sayang? Aku disini baik-baik saja, meski terkadang jika malam datang aku merasa sendiri . Benar kata kamu, ternyata tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Kata-kata keluarga, teman-temanku dan kamu untuk semangat dan lain-lainnya disini, tempatku menuntut ilmu akan selalu aku ingat :')

Sayang, aku bahagia mengenalmu. Meski sering kali aku bertanya-tanya untuk apa Tuhan mempertemukan kita jika pada akhirnya harus seperti ini. Membiarkan sepasang makhluk-Nya yang saling memiliki perasaan yang sama tetapi tidak dapat bersama. Walau begitu, aku tetap menyayangimu.

Sayang, sebenarnya akupun mengambil pelajaran dari kisah yang kita alami sekarang ini. Dengan mencintai orang yg penuh akan perbedaan, aku harus lebih bisa menerima sesuatu yang memang diluar kendaliku, takdir Tuhan. Meskipun kita tidak bisa bersama, kamu tetap memiliki ruang dihatiku, karena aku menyayangimu setulus hatiku.

Sayang, terima kasih juga untuk kebahagiaan singkat yang telah kamu berikan padaku. Seperti yang kamu bilang , "Jangan khawatir, aku yakin di rumah Allah kita bisa melanjutkan cinta di sana, kalau kamu bersedia sayang, untuk melanjutkan cinta entah di fana dunia atau di kekal surga aku bersedia, selama itu denganmu, karena aku menyayangimu"

Sayang, aku ingin kamu tidak melupakan semua yang telah kita lakukan, kisah kasih kita. Mungkin hanya sedikit dan sebentar, tetapi itu semua sangat berarti untukku. Aku akan sedikit flashback jika aku merindukan sosok dirimu sayang, walaupun rasanya sakit dan pedih akan kulakukan walaupun aku harus menangis setiap aku mengingat semua kenangan itu sayang tapi percayalah aku sangat menyayangimu

Sayang, maaf aku tidak bisa membuat surat yang indah untukmu disana. Tapi aku berharap surat ini berkesan untukmu. Aku menulis surat ini sambil menangis karena aku merindukanmu. Aku rindu kamu dan semuanya. Sekarang aku sudah tidak tahu akan menulis apa lagi. Terima kasih untuk semuanya, Sayang. Maaf untuk gengsiku yang terlalu besar, sebesar rasa sayangku padamu. Aku tidak akan melupakan semua kenangan, aku hanya akan menyimpannya ditempat yang teraman. Sampai jumpa dipertemuan kita yang berikutnya, entah dimana kita akan bertemu sayang :')

Aku, yang menyayangimu dengan segala perbedaan dan tanpa jeda !!

From Dita Permata Sari



Jumat, 18 Mei 2012

sedikit tentang hujan part II


Aku merangkum setiap potongan kenangan-kenangan itu agar utuh menjadi sosok bayangmu. 
Sejenak saja ingin kupeluk, agar beku rindu tak menghantam nurani lewat irama jantung yang tak lagi ramah. Sayang, apa kau tahu? 
di sini, di tempat kita pernah  menanam janji 
aku kembali dan kudapati semua benih itu hanya tumbuh menjadi nisan atas  mimpi-mimpi kita dan juga nisanku malam ini. 
Apa kau masih ingat? tiga tahun kita menautkan hati sedang raga masih serupa misteri. 
Dan apa kau masih ingat pula malam itu ketika kita memutuskan untuk menghapus setiap sekat maya 
agar raga-raga kita menyatu dalam ruang yang tak lagi samar 
ruang  yang jauh dari semu seperti rasa pesimisitas yang pernah aku hadirkan untuk menghadang rasamu 
tapi aku justru kalah oleh rayumu yang melambungkan angan? 
malam itu kita memilih untuk mempertemukan lahiriah yang sekian lama terkotak dalam jarak. 
Aku menunggumu di sini, meski hujan tak bisa kuajak kompromi untuk sedikit mereda hingga kau datang.

Datanglah kekasih. biarpun hari hujan
cinta kan mengiringimu dengan kehangatan
bawa saja seluruh kerinduanmu
kita satukan di dalam dekapan
langkahkan kakimu,sepenuh irama
biarkanlah jejakmu membekas di jalan
buka saja mantelmu,basahkan tubuhmu
hujanpun tahu, kita bertemu.....

for alm.Bagus Saputra

sedikit tentang hujan

hujan, taukah kau? setiap engkau datang aku langsung mengingatnya dan hanya dirinya. 
iya, dia yang kutemui di taman waktu itu saat kau sedang membasahi negaraku sekarang ini.
hujan, taukah kau? setiap engkau datang aku selalu ingin bertemu dirinya.
iya, dia yang saat pertama kali kami bertemu di tempat terindah itu, kau sedang menangis kecil.
dan kau tau hujan aku sangat suka gerimis sangaaat suka karna apa karna dia juga suka dengan gerimis, ya semua orang yang menyayanginya tau itu termasuk diriku
hujan, taukah kau? setiap engkau datang aku selalu merindukannya. 
iya, dia yang mengantarku dengan motornya ketika kau membasahi kota ini
hujan, taukah kau bahwa aku merindukannya? dan apakah kau tahu dia merindukanku juga atau tidak?
kurasa iya karna apa karna dia pernah bilang setiap tetes hujan adalah rasa kerinduannya kepadaku hujan
setiap kau datang membasahi kota ini aku selalu berharap dia masih menemani aku, dia masih  memberikan jaket kesayangannya untuk melindungi aku dari dinginnya cuaca pada hari itu, akankah semua akan terulang ? kini sekarang aku dia dan hujan adalah suatu cerita yang pas, hujan mengiringi kepergian dia dan aku rela tak dilindungi jaket kesayangannya demi menemani dia di singgasananya, hujan kini giliranku menangis, menangis karna iya pergi, pergi dari hidupku hujan 

demi kamu !!

Demi mataku yang menangisimu hingga sembab, aku merindumu hingga tidurku lelap.
Demi semua yang telah kamu lakukan, masih pantaskah kamu untuk aku perjuangkan?
Demi kehangatan dan perhatian yang semakin pudar, kapan kau kembali menjadi tempatku bersandar?
Jika sekarang kamu berpura-pura tak peduli. Adakah kemarin-kemarin kamu berpura-pura cinta?
Demi semua kemelut yang kamu buat, aku heran mengapa perasaan ini semakin menguat.
Demi setiap waktu yang aku habiskan untuk merindukanmu, masih adakah aku menjadi harapmu?
Setelah semua gengsi aku buang, perasaanku mana lg yang kamu ragukan?
Dulu kita saling suka, kemudian kamu lupa dan aku terluka.
Tak mungkin kau lupa, pada kecup pada pejam. Mungkin kau hanya takut luka, jika dekap berganti rajam
Aku bukannya rindu akan perhatian. Buktinya, kau acuhkan pun kadarnya tak berkurang
Jika tiba-tiba aku tak ada di sekelilingmu, bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku hanya ingin membuatmu sadar jika aku pernah ada untukmu.
Aku lelah terus menanti. Haruskah aku pergi?
Semoga aku segera lelah menanti. iya, menanti yang tidak pasti.
Dan andai mengucapkan semua perasaan semudah memulai percakapan sehari-hari
Andai mengucapkan “aku kangen” itu semudah mengucapkan “hai, apa kabar?
Andai mengucapkan “Aku sayang kamu” semudah mengucapkan “Udah lama ya gak ketemu”.
Aku satu, dari beribu yang menginginkanmu, dari beribu yang memujamu, dari beribu yang mendambamu. Hingga dengan tiadaku, tak ada berarti untukmu.

BAGUS SAPUTRA♥
 

bukan siapa siapa ♥

Aku bukan siapa-siapa yang harus kau cari ketika aku menghilang dari pandanganmu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau khawatirkan ketika kau tak mendengar kabarku.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau rindukan ketika aku jauh darimu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau sebut dalam setiap doamu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kamu cintai setiap hari.
Aku bukan siapa-siapa yang harus mengisi hati dan pikiranmu.
Ya, aku bukan siapa-siapa untukmu. Tapi kamu menjadi segalanya untukku ♥ (˘⌣˘)ε˘`)

Dita Permata Sari

Rabu, 16 Mei 2012

someday

Kau pasti tak tahu, betapa sakitnya cinta yang tak terbalas. Namun, kau harus tahu rasanya jauh lebih perih saat hatimu berkeras untuk tetap menunggu. Menunggu dia yang menganggapmu hanya seperti angin lalu. Menanti seseorang yang hanya menyayangimu sebatas sahabat.

Begitu besarnya kau berharap dia akan berbalik, memandangmu lekat seraya tersenyum, kemudian mengatakan “Aku juga mencintaimu.” Mungkinkah itu akan terjadi? Entahlah. Sejujurnya aku ingin bertahan, namun setiap hari semakin kumeragu. Jadi, haruskah aku berhenti mengharapkanmu dan mulai merajut cinta baru?

Kamis, 10 Mei 2012

yaaapp hanya dia :')


Aku seringkali memerhatikan senyummu dari kejauhan. Berkali-kali tersenyum dan tertawa kecil saat bayangmu berputar-putar di otakku. Menyakitkan memang jika tahu kamu tak pernah ada di dekapku, tapi bukankah cinta juga butuh rasa sakit? Rasa sakit yang kunikmati setiap goresan lukanya… karena mencintaimu.
Aku memang pengecut, tak berani mengucap cinta dan mengamit rindu di depanmu. Tapi… ada beberapa sisi gelapku yang tak kauketahui, aku selalu mendoakanmu, merapal namamu dalam  percakapan panjangku dengan Tuhan. Memang, cinta itu terasa seperti siksa, ketika pengungkapan tertahan pada bibir kelu, ketika tatapanku hanya bisa menjagamu dari kejauhan. Di atas semua siksa itu, aku tetap mencintaimu.
Ketika tatapan kita saling bertemu, seperti ada listrik yang menjalar di tubuhku, lalu jutaan kupu-kupu menari riang di perutku. Entah harus disebut apa, yang jelas saat-saat bola matamu menyentuh bening mataku, aku seperti lupa bernafas, seakan-akan ginjal berpindah ke usus dua belas jari. Aku seperti patung yang tak berpembuluh darah. Mungkin… perasaan aneh ini tak juga kamu rasakan, karena sosokmu selalu saja begitu, menganggapku teman biasamu. Atau mungkin saja, kamu lupa namaku, kamu tak ingat setiap abjad dalam nama lengkapku. Aku memang bukan siapa-siapa di matamu.
Tak dapat dipungkiri memang, pemendaman yang menyakitkan selalu butuh pengungkapan, dan rasa yang disembunyikan harus menemukan kejelasan. Aku memutar otak, berpikir lebih keras dari biasanya. Lalu… kutatap lagi dirimu di sudut itu, beberapa meter dariku. Ada tangan nakal yang seakan-akan menarik hatiku, menggelitik rasaku, untuk setidaknya mengucap sepatah dua patah kata. Tak peduli harus terlihat bodoh ataupun tolol di matamu. Aku hanya ingin kamu memerhatikanku, walaupun hanya sedikit, walaupun hanya sedetik!
Kamu bukan malaikat dengan sayap indah, atau iblis menyebalkan dengan tanduk di kepala. Ini bukan soal keindahan fisik atau seberapa tebal dompetmu, ini tentang perasaan absurd yang bahkan tak kusadari. Ini tentang perasaan aneh yang merasuki tidur malamku dan bangun pagiku, selalu saja wajahmu tergambar jelas saat itu. Aku terhipnotis. Dan kamulah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkahku, juga menganggu kinerja otakku.
Cukup! Aku sekarat! Aku harus menyapamu lebih dulu! Aku harus mendengar suara lembutmu mengalun. Ah… logika tak boleh ikut dalam permainan rumit bernama cinta. Tapi, lagi-lagi bibirku kelu! Lagi-lagi tentang rasa malu!

Lalu.

Aku mundur.

Selangkah.

Dua langkah.

Lalu kembali memerhatikanmu lagi.

Diam-diam.

Seperti biasa :')